18 PAC-PBR Langkat Ancam Mundur

Tak Menjagokan Kadernya :

18 PAC-PBR Langkat Ancam Mundur

 

Darwis >> Langkat

 

Menyusul indikasi DPP dan DPW tak menjagokan kadernya sendiri di Pilkada nanti, kubu DPC Partai Bintang Reformasi (PBR) Kab Langkat memanas. Hebatnya lagi, 18 PAC mengancam mundur jika kenyataan tersebut terbukti. Penegasan itu dikemukakan oleh salah seorang Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) PBR Kec Secanggang Abd Khalis, kemarin (29/7), di Sekretariat Partai tersebut.

 

Bahkan disebutkannya, hal itu merupakan hasil keputusan bulat setelah melaksanakan rapat harian DPC dan PAC se-Kab Langkat beberapa hari sebelumnya. “Apabila, kader sendiri yakni Ketua DPC kita tidak dimajukan dalam pilkada mendatang, maka keputusan yang sudah kita sepakati kemarin akan berjalan. Dari 22 PAC yang ada, 18 diantaranya sudah siap mundur,” kata Khalis.

 

Khalis menuturkan, Ketua DPC PBR Kab Langkat H Alfihan Nur SE yang telah mengikuti berbagai proses untuk dapat bertarung di pemilihan bupati periode 2009-2014, sepertinya akan ditinggalkan oleh DPP maupun DPW dengan menggandeng jago lain yang bukan kader sendiri. Jadi, sambung dia, kenapa DPP serta DPW masih saja membuat kebijakan untuk menggelar penjaringan sekaligus fit prover test kepada calon jika tetap saja mengambil jago lain. Sikap tersebut bukan saja sangat mengecewakan, tetapi memberi arti bahwa pengurus yang ada tak pernah percaya kemampuan kadernya sendiri.

 

“DPP maupun DPW yang selama ini merasa dirinya jago berpolitik, kenapa tidak memikirkan kekuatan arus bawah. Aspirasi yang kita munculin harusnya mereka perhitungkan dan pantas dikedepankan. Sebab, garis partai belum tentu dapat dimaksimalkan jika grass roadnya tidak diperhatikan,” tegas dia.

 

Menyikapi ancaman tersebut, Ketua DPC PBR Kab Langkat H Alfihan Nur merasa wajar sikap yang diperlihatkan para kader tersebut. Pasalnya, kader merasa dibohongi dengan adanya titipan pihak luar ke dalam tubuh partai mereka guna menetapkan jagonya ke pesta dmokrasi. “Apabila partai yang berbasis Islam ini takut pada pesanan pihak luar, maka eksistensinya sudah tidak dapat dihandalkan lagi,” ujar Alfihan.

 

Alfihan pun berpendapat, sikap kader sebagai akar rumput merupakan bentuk dari demokrasi. Jadi, pengurus jangan pernah bermimpi memaksakan kebijakan karena kekuatan yang sebenarnya ada di garis bawah. Kondisi demikian, semestinya menjadi pelajaran bagi pengurus. Anggota Komisi I DPRD Kab Langkat ini menegaskan, bagaimana mungkin rakyat dapat percaya dengan suatu partai jika saja nasib kadernya tidak dapat diperjuangkan dalam berbagai hal termasuk Pilkada.  ” ujar Alfihan dengan nada kecewa.(darwis)

 

Security Pertamina Pangkalan Susu Aniaya Pencari Botot

Dituduh Mencuri Besi Pipa :

Security Pertamina Pangkalan Susu Aniaya Pencari Botot

 

Darwis >> Langkat

 

Ahmad Ahyar alias Ahyar (42) warga Jln. Cempaka, Kecamatan Babalan, Kabupaten Langkat, harus merigkuk didalam sel Polsek Pangkalan Bradan guna mempertangung jawabkan perbuatan yang tidak pernah ia lakukan. Sebelum dijebloskan kedalam sel yang pengap dan sempat itu, Ahyar terlebih dulu dipukuli oleh beberapa anggota Security PT.Pertamina Pangkalan Susu. Oleh para Security tadi, ayah dua orang anak ini dipaksa mengaku telah mencuri sembilan batang besi pipa milik Pertamina.

 

Selain Ahyar, Darwis (31) penduduk Esa Teluk Meku, Kecamatan Babalan, Langkat yang ketika itu bersama korban juga tak luput dari aksi main hakim ala pegaman (Security) pertamina tersebut. Akibat penganiayaan yang diterimanya, Ahyar harus diberikan perawatan intensif ketika itu karena wajah dan kepala korban berulang kali dipukul oleh oknum Security.

 

“ Saya harus menelan obat peghancur darah beku diotak sebanyak tiga butir yang hargaya satu butir Rp.340 ribu rupiah.” ujar Ahyar ketika ditemui POSMETRO Rabu (30/7) dari balik jeruji besi Polsek Bradan. Menurut cerita Ahyar, ia sama sekali tidak melakukan apa yang dituduhkan kepadanya tadi. Lebih jauh Ahyar juga mengatakan awal terjadinya penganiayaan hingga menyeret dirinya menjadi tersangka dalam kasus ini berawal dari kepergianya ke Paluh Sane, Desa Teluk Meku, Kecamatan Babalan pada tangal 21 Juli lalu bersama temanya Darwis.

 

Saat itu bilang Ahyar, dirinya dimintai tolong oleh Darwis untuk mengangkat mesin Boat miliknya yang ditingal didekat kawasan paluh. “ Saya sama Darwis pergi kekawasan tersebut untuk mengangkat mesin boat ketika itu,” bilang Ahyar seraya menambahkan datang kelokasi sambil membawa becak miliknya. Setibanya dilokasi, Ahyar dan Darwis langsung menuju paluh dimana boat tadi tersandar. Setelah membersihkan mesin, menjelang pukul 21.30 Wib, Ahyar dan Darwis bergerak pulang.

 

Tapi baru beberapa meter bergerak dijalan raya, tiba-tiba mereka ditangkap oleh beberapa orang yang mengaku Security Pertamina. “ Kami ditangkap dijalan sewaktu mau pulang kerumah, oleh orang-orang ini kami dituduh telah mencuri besi pipa Pertamina, padahal kami tidak tau sama sekali, “ ketus Darwis. Selanjutnya kami dibawa ke Pos Security PT.Pertamina Pangkalan Susu. Ditengah jalan menuju Pos tadi kami terus dipukuli oleh mereka dalam kondisi tangan diborgol.

 

Dan penyiksaan terus berlanjut sewaktu kami diperiksa di Pos Security. Ketika itu yang menjadi juru periksa (Juper) Security, Z Sembiring dan H. Azwar. “ seru Ahyar sambil menambahkan ketika di BAP oleh juper Security tersebut kepalanya berulang kali dipukul dengan pentungan. “ Saya sudah bilang kalau tidak tau perihal sembilan batang besi pipa tersebut, tapi mereka (security) tetap bersikeras menuduh, lagi pula ketika kami (Ahyar dan Darwis) ditangkap Security, besi tersebut jaraknya sekitar 20 meter dari lokasi penangkapan.

 

“ Yang pasti kami tidak tau perihal besi tersebut, namun karena tak tahan terus dipukuli ahirnya dengan terpaksa kami mengakui tuduhan itu “ kenang Ahyar yang berprofesi sebagai pencari botot ini. Sejak saat itu Ahyar dan Darwis pun “ terbenam” di sel Polsek Pangkalan Brandan menangung dosa yang menurutnya tidak ia lakukan. Tak terima suaminya dipermak seperti seekor kerbau, Rosmaini (49) istri Ahyar dan Anisa (31) istri Darwis melaporkan kasus penganiayaan yang dialami suaminya tadi ke Polsek Pangkalan Susu.

 

Bukti tanda laporan pengaduan kedua ibu rumah tangga inipun dituangkan dalam No.Pol:LP/313/VII/2008/LKT.Brandan tangal 22 Juli 2008. Untuk didengar keterangannya selaku saksi, oleh Polsek Pangkalan Susu, maka Rosmaini diminta hadir pada tanggal 01 Agustus nanti. “ Kalaupun kedua suami kami berbuat salah melakukan pencurian”, tutur Ros dan Annisa, silakan saja di hukum, akan tetapi tegakkan Supermasi hukum dan jangan main “Hakim” sendiri, apalagi sampai melakukan penganiayaan.” Ketus keduanya menimpali oknum yang mereka laporkan adalah Z.Sembiring Cs.

 

Sementara Kapolsek Pangkalan Brandan AKP Zulkarnain S ketika dikonfirmasi perihal kejadian ini membenarkan. Hanya saja bilang Kapolsek, kasus penganiayaan yang dilakukan oleh oknum Security tersebut tidak berada dibawah wilayah hukumnya. “ Kalau masalah penganiayaan itu kita sarankan kepada keluarga pelaku agar melapor ke Polsek Pangkalan Susu, sebab tempat kejadian perkara terjadinya diwilayah hukum Polsek disana. “ ujar Zulkarnain S datar.

 

Ditempat terpisah Kepala Security PT.Pertamina Kapten Nasbin Harahap saat dikonfirmasi POSMETRO melalui telepon selulernya perihal tuduhan penganiayaan yang dilakukan anggotanya tadi membantah kalau hal itu ada terjadi. “ Kalau kita disini, tidak ada diajarkan melakukan tindakan seperti itu, tapi kalau pelaku bilang Security ada melakukan penganiayaan mungkin itu cuma ngarang aja dia, kalaupun ada bekas memar ditubuhnya itukan bisa-bisa aja, yang pasti kalaupun mereka melaporkan kita ke pihak yang berwajib kita siap aja meladeninya itukan hak mereka.

 

Namun yang jelas sebelum pelaku ditangkap oleh Security kita telah melakukan pengintaian, memang pelaku tidak kita tangkap sewaktu mengergaji besi tersebut, alasanya kita takut pelaku melakukan perlawanan dengan senjata ditanganya dan itu dapat membahayakan keselamatan anggota, makanya kita tunggu waktu yang tepat meringkusnya.” Ujar Nasbin Harahap seraya menambahkan pelaku berjumlah 5 orang tiga diantaranya berhasil kabur.(darwis)

Sengketa Tanah Di Secanggang

Seputar Sengketa Tanah Di Secanggang :

Karyawan PT.Buana Estate Gelar Unjuk Rasa Tandingan Ke Polres Langkat

 

Darwis >> Stabat

 

Polres Langkat sejak beberapa hari ini terlihat sibuk dari biasanya. Apalagi sejak ditangkapinya puluhan warga Kampung Kompak Banjaran, Kelurahan Hinai, Kecamatan Secanggang yang tergabung dalam kelompok tani masyarakat inggin mandiri (KTMIM). Dan sejak 29 orang warga Kampung Kompak Banjaran resmi ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan oleh Polres Langkat, puluhan sanak keluarga mereka setiap harinya mendatangi Polres Langkat.

 

Meskipun tidak diijinkan masuk kedalam, namun dengan sabar puluhan kaum ibu dan anak-anak yang suami dan ayahnya ditahan ini menungu diluar pagar Polres Langkat. Untuk berlindung dari teriknya matahari, kaum tertindas inipun mendirikan tenda biru seadanya. Dibawah tenda plasti inilah mereka berkumpul tanpa kepastian sampai kapan berada ditempat itu.

 

Tak ada senyum,tak ada tawa dibawah tenda ini. Yang terlihat hanya wajah-wajah murung kaum termarginalkan itu. Mereka hanya bisa saling pandang dan berbagi sedikit senyum kepada yang lainya. Kalau diamat-amati senyum itupun sudah tak semanis dulu lagi. Penyebabnya, karena senyum dan tawa itu telah dirampas bersama 70,3 Ha tanah mereka oleh pihak Perkebunan. Beberapa anak kecil yang seharusnya duduk dibangku belajar terlihat duduk terselit diantara orang tuanya.

 

Sejak orang tuanya ditahan Polisi, anak-anak inipun seperti ayam kehilangan induk.” Adek ngak sekolah karena ngak ada uang jajan, ade juga rindu sama ayah, “ cetus Mila pelajar kelas V SD saat ditanya mengapa berada ditempat itu. Kerinduan Mila tak jauh beda dengan anak-anak lainya yang harus berhenti sekolah sejak orang tua mereka ditahan..” Macamana kami mau sekolahkan anak, sementara bapaknya masih dipenjara,” ujar Sutarmi (43) sambil menyeka air mata.

 

Suratmi juga mengatakan sudah tidak tau lagi harus berbuat apa semenjak sang suami ditahan. Ibu lima orang anak inipun menambahkan kalau empat anaknya yang masih bersekolah harus diberhentikan dengan berat hati karena tidak punya biaya. “ Anak saya lima orang, tapi yang sekolah 4 orang, kini semuanya harus diberhentikan sekolah karena tidak ada biaya, bagaimana kami bias hiduf sementara kepala keluarganya didalam penjara.

 

Untuk itulah Suratmi dan warga lainya akan tetap bertahan didepan Mako Polres Langkat menungu mereka yang ditahan dibebaskan.” Kalau ditanya sampai kapan kami disini, kami tidak tau, yang pasti sebelum suami dan saudara kami dibebaskan, kami akan tetap bertahan, kalau sore hari kami pulang kekampung menumpang tidur dan memasak dengan keluarga dan paginya kami akan kembali kemari (Polres Langkat).

 

Kalau masalah makan, tidak ada masalah sama kami apa yang ada itu yang kami makan karena kami sudah terbiasa hiduf susah, boleh dibilang kami sudah biasa makan nasi berkuah air mata,” pak imbuh wanita lainya nyeletuk. Ketika puluhan warga Kampung Kompak Banjaran tadi meratapi nasibnya yang malang , seratusan warga mengatasnamakan Karyawan PT.Buana Estate Selasa (29/7) mendatangi Polres Langkat.

 

Masa yang datang dengan berjalan kaki dari depan kantor DPRD Langkat ini membawa sejumlah spanduk dan poster yang dibentangkan. Kedatangan karyawan tersebut sepertinya sengaja diarahkan oleh pihak Perkebunan. Pasalnya, iring-iringan massa tadi juga diikuti sebuah Ambulance. Tidak seperti aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh warga KTMIM yang mendapat penjagaan extra ketat dan kurang mendapat perhatian oleh Polres Langkat.

 

Kedatangan karyawan perkebunan yang mengatasnamakan diri pekerja-pekerja anggota SPSI Perkebunan inipun disambut hanggat oleh pihak Polres Langkat tanpa harus berteriak dan berjemur lama-lama didepan gerbang. Bahkan pintu gerbang Polres Langkat dibuka lebar-lebar untuk masa pro Perkebunan ini tidak seperti warga KTMIM yang dijaga ketat sepasukan petugas Dalmas Satmapta. Demo yang dilakukan oleh pekerja-pekerja perkebunan PT.Buana Estate tersebut tak ubahnya seperti unjukrasa tandingan saja.

 

Warga KTMIM yang berada tak jauh dari masa yang berorasi tadi hanya menatap hampa kepada orang-orang ini. Selain melakukan demo layaknya angar kekuatan tersebut, mereka juga menyatakan sikap dan dukungan terhadap Polres Langkat. Namun demo ini juga disusupi pihak-pihak luar alias tidak murni mereka yang berunjuk rasa tadi adalah karyawan perkebunan. Hal ini diketahui POSMETRO ketika beberapa orang warga yang kebetulan melihat demo tersebut mengaku kalau diantara orang ini bukan karyawan semua.” itu bukan karyawan kok ikut unjuk rasa ya,” bilang seorang warga.

 

Dugaan pihak Perkebunan sengaja membayar orang-orang luar melakukan unjuk rasa tandingan tadi dikuatkan dengan banyaknya anak-anak yang diikut sertakan. Seperti Putri (11) pelajar Kelas V SD Hinai Kiri ini misalnya. Ia ikut berorasi setalah ayahnya Poniman yang karyawan kebun diperintahkan mandor untuk unjukrasa.” Kami ngak tau apa-apa, disuruh pergi ke Stabat ya kami pergi aja, kalau masalah ini itunya tanyakan saja sama kordinatornya, karena kami ngak tau apa-apa.” Tukas seorang pendemo kepada POSMETRO sambil beranjak pergi.

 

Kapolres langkat AKBP Drs.H Dodi Marsidi diwakili Kabag Binamitra Kompol Edi Sudarsono yang menerima perwakilan masa keryawan ini mengatakan akan menyampaikan segala aspirasi masa kepimpinan.” Saya akan sampaikan keinginan bapak-bapak ke bapak Kapolres.” tukas Edi Sudarsono sedikit kalem.(*) 

Kurir 25 KG Ganja Di Tangkap

Kurir 25 KG Ganja Di Tangkap

 

Darwis >> Stabat

 

Selang beberapa jam Polres Langkat melakukan pemusnahan barang bukti berupa daun ganja kering seberat 520,991 Kg, Selasa (29/7) sore petugas kembali mengamankan seorang pemilik daun ganja kering yang ditaruh didalam tas pakaian warna hitam.

 

Dari tangan pelaku yang satu ini polisi menemukan 25 bal daun ganja kering ditaksir seberat 25 Kg yang rencananya akan diantar ke gudang  bus kurnia di Medan . Menurut penuturan M.Iqbal (22) warga Dusun Sempurna, Desa Sampo Ajad, Kecamatan Jeuneb, Kabupaten Biruen-NAD ini saat ditemui POSMETRO diruangan juru periksa Sat narkoba Polres Langkat, daun ganja yang dibawanya tersebut merupakan milik Muhamad warga Aceh.

 

Oleh Muhamad, pelaku mengaku diberi upah untuk mengantarkan daun ganja tersebut dari Aceh ke Medan sebesar Rp.100 ribu rupiah setiap kilonya. Namun imbalan yang diterima pelaku belum sepenuhnya. Menurut pelaku Muhamad baru memberikan uang buat ongkos sebesar Rp.400 ribu kepadanya. “ Saya disuruh mengantarkan tas yang berisi ganja ini kepada Irwan oleh Muhamad, katanya ia (Irwan) menungu di gudang Bus Kurnia.” Tukas Iqbal dengan loghat Aceh yang kental.

 

“ Saya cuma petani pak, tiap hari saya kerja disawah, kebetulan saya lagi punya hutang sama kawan, saya pusing tidak ada uang mau bayar, makanya waktu disuruh sama Muhamad itu saya mau aja, apalagi dia bilang kalau sampai di Medan aku dikasi uang Rp.2,5 juta, memang saya tau didalam tas itu isinya ganja” ujarnya polos. Sementara kast Narkoba Polrse Langkat AKP Marjo saat dikonfirmasi POSMETRO MEDAN diruangan kerjanya membenarkan perihal diamankanya pelaku ganja tadi.

 

“ Pelaku terjaring swiping rutin yang tengah digelar oleh Polsek Gebang, ketika petugas melakukan pemeriksaan atas tas yang dibawa pelaku, didalamnya ditemukan 25 bal daun ganja kering seberat 25 kg. Untuk mempertangung jawabkan perbuatanya pelaku langsung kita gelandang ke Polres Langkat.” Tukas Marjo datar.(*) 

 

Seharga 0,5 Milyar Lebih Daun Ganja Dimusnahkan

Seharga 0,5 Milyar Lebih Daun Ganja Dimusnahkan

 

Darwis >> Langkat

 

Sebanyak 520,991 KG daun ganja kering dimusnahkan kemarin di Halaman Apel Mako Polres Langkat. Pemusnahan barang bukti hasil tangkapan Polres Langkat tersebut dilakukan setelah adanya penetapan status barang bukti dari Kajari Stabat. Hadir menyaksikan pembakaran daun haram asal itu Kapolres Langkat AKBP Drs. H Dodi Marsidy, Ketua BNK Langkat Drs H.A Yunus Saragih, Kajari Stabat diwakili Kasi Pidum P Nasution SH.

 

Kabag Bina Mitra Polres Langkat Kompol Edi Sudarsono, Kasat Narkoba AKP Marjo, Kasat Intelkam AKP Edi Yanto dan Kabag Humas Pemkab Langkat Irwan Syahri serta sejumlah perwira Polres Langkat lainya. Kapolres Langkat AKBP Drs. H Dodi Marsidi melalui Kasat Narkoba AKP Marjo disela-sela kegiatan tadi ketika dikonfirmasi POSMETRO mengatakan, pemusnahan yang dilakukan pihaknya setelah adanya surat penetapan dari Kajari Stabat tentang status barang bukti narkotika jenis ganja untuk dimusnahkan.

 

Selain itu berkas perkara tersangkanya juga telah dinyatakan lengkap atau P21. “ Untuk ganja yang dimusnahkan ini, tersangkanya ada empat orang yakni Sahlan dan Irwan Syahputra ditangkap tanggal 22 juni dengan barang bukti sebanyak 10 kg. Mardianas Adinil alias Dinil ditangkap tanggal 7 Juli dengan barang bukti 474 Kg dan Jalaludin ditangkap tanggal 9 Juli barang bukti sebanyak 36 Kg. “ ujar Marjo seraya menambahkan jika dikalikan rupiah nilai ganja yang dimusnahkan tadi mencapai setengah milyar. 

 

Katanya lagi, dengan banyaknya ditemukan daun ganja tadi oleh Polisi dalam kurun satu bulan maka pihaknya akan terus melakukan swiping-swiping atau razia rutin guna menekan lolosnya daun ganja itu dari kawasan ini, selain itu hal ini membuktikan kalau bisnis daun haram tersebut masih saja diminati oleh pelaku-pelakunya.(*)

 

Sepeda Motor Dibakar, Pencuri Kambing Di Hakimi Warga

 

Sepeda Motor Dibakar, Pencuri Kambing Di Hakimi Warga

 

Darwis >> Langkat

 

Pencuri kambing yang satu ini terbilang beruntung karena masih dapat menghirup segar sampai hari ini setelah tertangkap tangan oleh warga melakukan pencurian hewan ternak. Meskipun begitu satu unit sepeda motor Yamaha RX King BK 2232 HI warna hitam yang digunakan tersangka bersama seorang temanya (kabur) ketika beraksi hanggus dibakar warga yang kadung emosi. 

 

Beruntung petugas dari Polsek Stabat cepat sampai kelokasi sehingga nyawa pelakupun dapat diselamatkan dari kematian akibat amuk massa yang kian menyemut. Dalam kondisi wajah babak belur Rudi Dermawan alias Rudi (25) pemuda asal Glugur Helvetia-Medan inipun digiring ke Polsek Stabat guna dimintai keterangan sekaligus pertangung jawabpanya.

 

Menurut keterangan yang dikumpulkan POSMETRO di Polsek Stabat Selasa (29/7) menyebutkan, tertangkapnya pelaku berawal dari resahnya warga Kelurahan Kwala Begumit, Kecamatan Stabat, Langkat sejak beberapa bulan terahir ini yang kerab kehilangan hewan ternak mereka. Oleh sebab itu, warga setiap harinya terus berwaspada terhadap ternak mereka yang berkeliaran diareal perkebunan tebu PTPN-2 Kwala Madu.

 

Dan kemarin (28/7) Suyanto (48) salah seorang karyawan PTPN-2 Kwala Madu yang menetap di Jln. Batu Raja No.174, Kelurahan Kwala Begumit, Kecamatan Stabat, mengaku kehilangan satu ekor hewan ternak miliknya. Kehilangan itu diketahui korban dari anaknya Sandi Wanda (12) yang ketika itu ditugasin mengangon kambing. Mulanya korban berusaha mencari kekawasan perkebunan itu.

 

Tapi setelah puas berkeliling, kambing biri-biri betina milik korban ini tidak juga ditemukan. Ditengah jalan korban bertemu dengan seorang warga yang mengaku curiga melihat gerak gerik dua orang asing siang itu. Diyakini kambing korban telah pula dicuri oleh orang tersebut. Untuk membuktikanya korban dan temanya ini langsung melakukan pengintipan karena diyakini pelaku akan kembali datang untuk mengambil kambing curianya. Dugaan mereka benar.

 

Menjelang pukul 21.45 wib, dua orang pria mengendarai sepeda motor melaju kencang dari areal Blok VI DP 2 Perkebunan tebu tersebut. Selanjutnya korban yang telah memberitahukan perihal kehilangan ternaknya kepada warga lainya langsung melakukan penyetopan terhadap kedua pria ini. Begitu diperiksa karung yang dibawa kedua pelaku ternyata didalamnya berisi seekor kambing yang telah disembelih.

 

Dengan cepat salah seorang pelaku melarikan diri setelah sadar ulahnya ketahuan warga. Namun naas bagi Rudi, ia tak dapat berbuat banyak ketika warga meringkus dirinya. Warga yang marah spontan melampiaskanya dengan pukulan kepada pelaku. Seketika wajah pelaku babak belur dihamtan bogem-bogem mentah warga sebelum ahirnya diserahkan kepihak yang berwajib.

 

Sementara tersangka (Rudi) saat ditemui POSMETRO dari balik jeruji besi Polsek Stabat mengaku kalau kenekatanya karena lagi butuh uang kantong untuk beli rokok dan biaya lainya. “  Aku baru satu bulan tinggal sama salah seorang kerabat ku di Desa Cinta Dapat, Kecamatan Selesai, Langkat, “ bilang tersangka. Karena tidak punya pekerjaan tetap, ahirnya tersangka pusing tujuh keliling mencari uang buat beli rokok dan biaya kelakuan lainya.

 

Ketika itulah Andi temanya mengajak pelaku melakukan pencurian kambing tersebut. “ Aku baru sekali ini mencuri kambing, itupun karena diajak sama Andi, karena lagi butuh uang aku mau aja tanpa berpikir akan jadi seperti ini.” ujar tersangka. Sedangkan Kapolsek Stabat AKP Edi Supriyanto ketika ditemui membenarkan perihal diamankanya seorang pencuri kambing tadi oleh pihaknya. “Kasusnya sudah kita tangani, sekarang ini pelaku masih didalam sel.” terang Edi Supriyanto seraya menambahkan atas perbuatanya pelaku akan dijerat Pasal 363 KUHPidana tentang pencurian.(*)

Derita Warga Kampung Kompak Banjaran

 

Derita Warga Kampung Kompak Banjaran :

29 Ditetapkan Jadi Tersangka, 4 Jadi Terdakwa Di PN Langkat

 

Darwis >> Langkat

 

Masa depan warga Kampung Kompak Banjaran, Kelurahan Hinai Kiri, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat sepertinya punah sudah. Setelah dua puluh sembilan orang warga Kelompok Tani Masyarakat Inggin Makmur (KTMIM) ditangkap oleh pihak Polres Langkat beberapa waktu lalu dan hingga kini masih mendekam dibalik sel Polres Langkat.

 

Kini penderitaan mereka semakin lengkap dengan didudukkannya 4 orang lagi warga disana dikursi pesakitan sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Langkat di Stabat.

 

Keempat orang warga yang menjadi terdakwa itu masing-masing Supono (44), Joko Sumpeno (45), Kardimo (70) dan Andi Wijaya (38). Mereka diadili oleh PN Langkat karena dilaporkan oleh pihak PT.Buana Estate atas kasus masuk kedalam lahan perkebunan tanpa ijin. Atas kasus itu merekapun dijerat dengan Pasal 47 UU No.18 tahun 2004 tentang perkebunan.

 

Meski tidak ditahan didalam sel seperti rekan dan saudaranya yang lain, namun kasus inipun telah digelar sebanyak dua puluh kali persidangan. Sidang yang diketuai majelis hakim Edi S Pelawi SH, Rendra SH dan Purwanta SH serta jaksa penuntut umum (KPU) Hendra Sarbaini SH tersebut, tentu saja sangat melelahkan warga yang harus pula mencari nafkah untuk menghidupi keluarga.

 

Dan Senin (28/7) sidang terdahap keempat warga Kampung Banjaran ini kembali dibuka. Kali ini materi sidang mendengarkan tuntutan jaksa. Pada sidang sebelumnya dihadirkan saksi ahli dari BPN yang diwakili oleh O Pasaribu serta saksi ahli dari USU P. Tarigan. Sedangkan keempat warga inipun didampingi dua orang penasehat hukum G. Maruhum dan Dedi Sahyadi Ginting.

 

Sebelum dimulainya sidang keempat warga inipun sempat berkeluh kesah kepada POSMETRO MEDAN. Kata mereka, apa yang dituduhkan oleh pihak PT.Buana Estate terhadap mereka sebenarnya tidak rasional, sebab mereka dituduh masuk kelahan perkebunan tanpa ijin, padahal selama ini warga merasa kebun atau tanah merekalah yang dirampas oleh perkebunan. Tapi sayang, teriakan warga tidak pernah didengar apalagi ditangapi oleh para pihak-pihak yang berkompoten.

 

“ Jeritan kami diangap seperti anjing menggongong, tapi kafilah tetap berlalu, “ cetus Supono seraya menambahkan sudah terlalu letih menghadapi persoalan ini namun tidak pernah ada penyelesaianya, malah pihak merekalah yang diangap perusuh.  Supono juga mengatakan kalau penangkapan yang dilakukan oleh pihak Polisi Jum’at (25/7) lalu sepertinya salah kaprah. Pasalnya, banyak warga yang tidak tau menahu tentang masalah itu tapi malah diangkut.

Seperti warto (36) misalnya. Ketika itu Wartao berhenti dipingir jalan setelah melihat ada ramai-ramai ditempat itu. Dari atas sepeda motornya, pria ini melihat kerumunan warga yang sedang berkumpul. Tanpa tau asal usul masalah, tiba-tiba seorang petugas langsung menangkap Warto dan menaikkanya kedalam truck Polisi. Tak ketingalan sepeda motor warga Kecamatan Secanggang ini juga diangkut ke polres Langkat saat itu.

 

Yang lebih parahnya lagi ada beberapa orang warga yang ketika itu hendak pergi keladang juga diangkut dan hingga saat ini masih “ terbenam”  di Polres Langkat sebagai tersangka. “ Banyak warga yang tidak tau apa-apa kini ditahan di Polres Langkat, artinya ketika kejadian mereka (warga) ada yang melintas hendak pergi keladang, memang secara kebetulan membawa senjata tajam seperti parang, ya namanya jua orang mau pergi keladang kan pasti bawa senjata seperti parang.” Ujar Surianto (37) yang ditangkap Polres sewaktu hendak mencari kangkung.

 

Menurut Surianto, sebenarnya yang pertama kali membuat masalah ketika itu adalah pihak PT. Buana Estate. Saya tau persis kalau yang pertama kali memancing emosi warga sampai membalikan jhonder adalah karyawan karena waktu itu saya sedang duduk diatas kereta “ katanya.  Ketika itu supir jhonder yang hendak mengangkat buah kelapa sawet hendak menabrak anak-anak.

 

Warga yang melihat sikap arogan sisupir jhonder tersebut berupaya menghalangi jalan, tapi sekali lagi supir ini menabrakan besi berjalan itu kepada Ponise (45) akibat ditabrak jhonder tersebut Ponise mengalami luka pada bagian tulang dada retak dan kaki luka-luka . Melihat hal inilah emosi warga langsung naik, karena kesal warga lantas menahan jhonder dan mendorongnya masuk kedalam paret.

 

Yang menjadi tanda tanya warga saat itu pihak Karyawan perkebunan semuanya mengunakan tanda merah dilengan bajunya sepertinya semua kejadian ini telah diatur kian hinga ahirnya Polisi bergerak menangkapi warga dengan alasan melakukan pengrusakan dan sebagainya.” Tukas Surianto kesal seraya menambahkan diduga telah terjadi konspirasi diantara PT.Buana Estate dengan Polres Langkat.

 

Sementara ditempat terpisah, puluhan warga lainya masih terus bertahan di depan Polres Langkat. Kalau sebelumnya para wanita dan anak-anak ini mendirikan tenda biru persis didepan pintu masuk ke Polres Langkat, tapi kini mereka bergeser beberapa puluh meter dari gerbang Mapolres. Saat ini warga mendirikan tenda tak jauh dari kantor Kejaksaan Negeri Langkat di Stabat.

 

Salah seorang ibu yang ditemui POSMETRO mengaku akan tetap bertahan menungu saudara mereka yang masih ditahan Polisi. “ Kami semua akan terus bertahan disini sampai saudara dan suami kami dibebaskan, kami sudah tidak punya tempat tinggal lagi, kalaupun kami pulang ke Kampung tanah kami sudah tidak ada lagi, begitu juga dengan suami kami, mereka ditahan disini, jadi apa lagi yang kami harapkan disana. “ imbuhnya.(darwis)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.