Hari Pendidikan Ternoda : Belikan Permen Guru, Wawan Ditabrak Mobil Sampai Tewas

Darwis >> Langkat

Hari pendidikan Nasional yang diperingati pada Jum’at (2/5) kemarin, merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia . Pada hari ini hampir setiap institusi yang ada kaitannya dengan dunia pendidikan mengadakan upacara bendera. Upacara untuk memperingati hari bersejarah bagi dunia pendidikan Indonesia.
Tapi lain halnya dengan keluarga Khairul Amri (47) dan Sulastri Ekawati (42). Dihari yang paling bersejarah bagi dunia pendidikan tadi ia harus kehilangan buah hatinya akibat ulah seorang pendidik. Setelah dua hari menjalani perawatan di rumah sakit (RS) ahirnya Sopwan Azmi alias Wawan (10) pelajar Kelas IV SD 050713 menghembuskan napas terahirnya disalah satu ruangan rumah sakit Haji-Medan Kamis (1/5) sekitar jam 16.15 Wib.

Isak tanggis langsung menyelimuti kematian anak semata wayang pasangan Khairul Amri alias Amri dan Sulastri Ekawati ini. Untuk prosesi selanjutnya, jasat Wawan langsung diboyong kerumah duka di Lingkungan II, Kelurahan Kebun Lada, Kecamatan Hinai, Kabupaten Langkat dengan mengunakan Ambulance. Ibu Wawan (Ekawati) langsung lemas dan taksadarkan diri begitu mengetahui anak satu-satunya ini telah menghadap sang pencipta.

Wawan menghembuskan napas terahir dalam kondisi yang sangat mengenaskan dimana kaki, tangan dan kepalanya nyaris remuk setelah ditabrak mobil Feroza BK 88 RK warna blue yang dikemudikan Mulyadi (32) warga Jln. Pelita IV No.15 C, Kelurahan Sid Barat, Kecamatan Medan Perjuangan, dikawasan Km 50-51 persis didepan sekolah korban. Saat ini untuk mempertangung jawabkan perbuatanya, Mulyadi telahpun diamankan di Satlantas Polres Langkat bersama mobil tersebut.

Tapi yang paling disesalkan oleh kedua orang tua korban, kejadian itu merupakan kesalahan seorang guru yang ketika itu menyuruh korban keluar sekolah untuk membelikan Bombon buat daganggan siguru. Padahal ketika itu masih jam belajar dan mengajar. Menurut keterangan yang dikumpulkan POSMETRO Jum’at (2/5) dirumah duka menyebutkan, kejadian ini berawal dari disuruhnya korban bersama dua rekanya Ade (10) dan Fuji (10) pergi keluar sekolah oleh Delvi yang tak lain adalah guru kelas IV.

Hari itu Selasa (29/4) sekitar jam 10.35 Wib. Oleh Delvi yang ketika itu sedang mengajar diruangan kelas, meminta kepada Wawan, Ade dan Fuji untuk keluar sekolah membelikannya dua bungkus Bombon karet yang nantinya akan kembali dijual oleh Delvi dipintu gerbang Sekolah.

Karena yang menyuruh adalah ibu gurunya, tanpa membantah sedikitpun, berangkatlah ketiga bocah ini menyeberang jalan lintas umum (Jalinsum) Aceh-Medan yang berada tepat didepan sekolah. Setelah membelikan pesanan siguru tadi, maka ketiga bocah inipun kembali kesekolah.

Rupanya, bombon yang dibeli oleh ketiganya salah. “ Waktu itu kami salah beli bombonya, buk Delvi suruh beli bombon karet, tapi yang dibeli sama Fuji bombon Kiss, untuk itu kami kembali disuruh menukarkan kedua bungkus bombon Kiss tadi dengan Bombon karet,” ujar Ade seraya menambahkan sering disuruh oleh Delvi untuk membeli bombon menyeberangi jalan lintas tersebut.

Dan ketika hendak menukarkan bombon tadilah Wawan ditabrak sebuah mobil yang melaju kencang dari arah Medan menuju Tanjung Pura. Tubuh Wawan langsung terpental keaspal, disekujur tubuhnya penuh darah.” Bilang Ade mengingat kejadian yang merengut nyawa sohibnya itu. Warga yang mengetahui kejadian itu berupaya memberikan pertolongan dengan membawa Wawan ke Klinik Ganesha.

Tapi karena luka yang diderita korban begitu parah, ahirnya Wawan dirujuk ke RS Insani Stabat. Tidak berapa lama mendapatkan perawatan pihak RS Insani menyarankan kepada keluarga agar korban segera diboyong ke RS Materna-Medan guna menjalani perawatan yang lebih baik lagi.

Karena tidak membawa biaya (uang) yang cukup, ahirnya pihak RS Materna menolak mengobati korban. Dalam kondisi kritis korban (Wawan) dirujuk ke RS Haji-Medan. Setelah beberapa kali pindah RS, ahirnya Kamis (1/5) sekitar jam 4,15 sore, Wawan menghadap sang khalik. Sementara Kapolsek Hinai AKP M. Hasibuan melalui Kanit Reskrim Ipda Feby H ketika dikonfirmasi wartawan Koran ini membenarkan perihal kejadian itu.

Kepergian Wawan dengan cara tragis, benar-benar menyisakan luka yang mendalam bagi Sulastri Ekawati ibunya Wawan. Oleh karenanya, Ekawati bertekad tidak akan pernah memaafkan orang yang telah menyebabkan putra tungalnya pergi untuk selama-lamanya dari pangkuanya. “ Binatang kali orang yang telah menyuruh anakku itu, sampai kapanpun ngak kuijinkan, sampai dunia ahirat.

“ Kok tega kali kalian buat anak ku seperti ini, ya tuhan, kejam kalilah orang ini, “ ratap Ekawati sambil menatap pilu jasat Wawan yang terbujur kaku diruangan rumah itu. “ Anak ku sudah mati, “ isak Ekawati lagi dengan suara terbata-bata. Para pelayat yang datang juga larut atas kepergian Wawan bocah periang dan dikenal baik dilingkunganya ini.

Suara tanggis kian menjadi ketika Ekawati melihat para kerabat dekatnya mulai berdatangan. “ Wawan sudah ngak ada kak, “ katanya sambil memeluk erat seorang ibu paruh baya yang langsung nyelonong masuk. Rumah ini benar-benar berduka saat itu. Beberapa orang guru juga tampak melayat ketika itu, namun mereka engan dilihat oleh ibu Wawan yang menuding kematian anaknya akibat kelalaian guru.

“ Masak anak ku disuruh beli bombon waktu jam belajar, kalian pikir kalian siapa, “ cetus Ekawati sambil menatap tajam kearah mereka-mereka yang mengenakan seragam Korpri guru. Sementara Khairul Amri alias Amri ayah Wawan, saat ditemui POSMETRO diantara pentakziah lainya mengaku tidak dapat menerima kejadian ini.

Karena menurut Amri, kematian Wawan akibat kelalaian sorang guru yang menyuruhnya membeli bombon. Korban disekolahkan di SD tersebut bukan untuk disuruh-suruh membeli barang dagangan si guru melainkan untuk menimba ilmu. “ Saya sendiri belum pernah menyuruh korban (Wawan) untuk membeli ini dan itu, sebab saya begitu sayang kepadanya, kalaupun dirumah ini sedang tidak ada korek api, saya tidak menyuruh Wawan untuk membelinya tapi saya pergi sendiri karena saya takut terjadi sesuatu terhadap anak saya.” Imbuh Amri sambil menyeka air matanya.

“ Wawan adalah anak saya satu-satunya, oleh karena itulah saya begitu takut kehilangan dirinya. Apalagi sejak Wawan dilahirkan, ibunya (Ekawati) sudah tidak dapat hamil atau melahirkan lagi karena peranakanya sudah diangkat, saya tidak dapat membayangkan apa jadinya dengan keluarga kami ini. “ seru Amri yang tak kuasa membendung derai air matanya.

Kenapa seorang guru yang seharusnya menjaga dan mendidik malah menyuruh anak saya pergi berbelanja barang daganganya, seharusnya si oknum guru itu sadar kalau perintahnya itu sangat berbahaya bagi anak-anak, mengingat jalan lintas yang akan diseberangi oleh mereka. Yang saya kesalkan lagi, siguru itu hanya memikirkan keuntungan pribadi tanpa mengindahkan keselamatan anak-anak.

Kalaupun memang ia nya mau berbisnis disekolah jangan libatkan anak murid, kalaupun hobynya berdagang atau jualan ada baiknya jualan saja. Atas kasus ini saya merasa keberatan dan akan segera melaporkan kasus ini kepihak yang berwajib, mungkin setelah anak saya selesai dikebumikan kami akan melaporkannya.” Ujar Amri geram.(darwis)

2 Tanggapan

  1. Im sorry to hear that….

  2. So… what do you want Hear…? “kenapa tanya…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: