“ Tanah Kami Dirampas, Anak Kami Putus Sekolah”

46 Warga KTMIM Diamankan Polres Langkat 

“ Tanah Kami Dirampas, Anak Kami Putus Sekolah”

 

Darwis >> Langkat

 

 

 

 

 

Sekitar 46 orang warga dua diantaranya wanita dari Kelompok Tani Masyarakat Ingin Makmur (KTMIM) Kampung Kompak Banjaran, Kelurahan Hinai Kiri Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, diamankan pihak Polres Langkat, Jum’at (25/7) sekitar pukul 08.30 Wib. Penangkapan yang dilakukan  petugas kepolisian ini terkait keributan yang terjadi sejak beberapa hari belakangan ini.

 

Sebelumnya Kamis (24/7) warga menghalangi pihak PT. Buanan Estate untuk mengambil atau memanen buah kelapa sawit diareal seluas 70,3 Ha yang diklaim warga milik mereka. Aksi yang sempat memanas kemarin itu dapat diamankan aparat sebelum terjadinya adu fisik diantara warga KTMIM dengan pihak perkebunan. Meski ada jotos tidak terjadi, tapi buah kelapa sawit yang dipanen oleh para pekerja perkebunan tidak dapat diangkut.

 

Dan Jum’at (25/7) pihak perkebunan PT. Buana Estate sekitar pukul 07.30 Wib, berencana melangsir buah kelapa sawit mereka yang dipotong kemarin. Ternyata upaya perkebunan mengangkut buah sawit dengan mengunakan Jhonder itu mendapat tantangan dari warga.  Ratusan warga langsung menghadang para pekerja perkebunan tadi. Aksi warga KTMIM tidak sampai disitu saja, mereka juga merusak jalan yang akan dilalui Jhonder.

 

Bahkan puncak aksinya, warga mendorong Jhonder tersebut kedalam parit hingga terbalik sambil menyirami alat berat itu dengan minyak Bensin. Puluhan anggota Dalmas Samapta Polres Langkat yang diturunkan kelokasi langsung melakukan tindakan dengan mengamankan warga yang kian brutal. Selain mengamankan puluhan warga tadi, petugas juga menyita dua buah jerigen bekas minyak tanah, 19 senjata tajam satu diantaranya samurai.

 

14 unit sepeda motor, 10 unit sepeda dayung, 2 buah ban bekas sepeda motor dan 8 buah ban sepeda dayung. Sedangkan warga yang diamankan Polisi tadi masing-masing : Sumarno (80), Muslim (30), Ruyat (55), Misran (30), Untung Wahyudi (26), Saprizal (35), Sugianto (47), Sudiro (49), Pardi (45), Joko Supeno (44), Suardi alias Kingkong (46), Naseb (52), Suparmin (58), Roso (75), Warto (38), Selamat, (78) Udin (48), Harmanto (50), Rudi Hartono (29), Sukiman (60), Jumadi (76), Tukiman (40), Mustaram, (73), Andi Wijaya (38).

 

Hendri Saragih (20), Basyir (68), Rusiadi (37), Noko (35), Paidi (76), Paimin (71), Musalim (30), Supriadi (38), Dedi (20), Paino (71) Sali (70), Rusdianto (30), Sagiman (43), Suriyanto (47), Saliman (35), Tuyadi (42), Sugiman (85), Wagiman (57), Turiana (35), Suparni (55) dan Heri (45).

 

Begitu warga ini diboyong dengan mengunakan mobil truck Polisi menuju Polres Langkat, puluhan sanak keluarga mereka menyusul ke Polres Langkat. Dengan menumpang angkutan umum, para kaum ibu yang membawa anak-anak inipun meringsek ke gerbang Polres Langkat. Tapi kedatangan warga ini telah diantisipasi petugas sebelumnya. Tak seorangpun dari warga ini diijinkan masuk untuk melihat atau menemui mereka-mereka yang ditahan.

 

Diperlakukan seperti itu kaum wanita inipun berontak sambil membawa dua buah bendera merah putih yang diikatkan ditiang bambu merekapun mengelar aksi damai tepat didepan pintu gerbang masuk menuju Polres Langkat sambil menancapkan bendera tadi. “ Bapak tau, kenapa bendera kami ini setengah tiang? Itu artinya kami belum merdeka, kami terus dijajah dan diperlakukan tidak seperti manusia. “ teriak seorang ibu histeris.

 

“ Entah kemana lagi kami harus mengadu, sudah dua puluh tahun lebih kami menderita seperti ini, tanah kami dirampas, tempat tingal kami dirubuhkan, anak-anak kami putus sekolah semuanya, seandainya tanah kami tidak dirampas dan ladang kami masih ada sampai sekarang ini, mungkin anak-anak kami sama seperti bapak-bapak Polisi ini atau menjadi pejabat, tapi karena tempat tinggal dan tanah kami sudah tidak ada lagi, anak-anak kamipun terpaksa putus sekolah dan menjadi buruh.” Beber Tuminem (50) yang mengaku lima orang anaknya harus putus sekolah karena tanahnya telah dirampas PT.Buana Estate.

 

“ Kalau kami melarang mereka (PT.Buana Estate) mengambil hasil ditanah kami itu wajar, kalau mereka mengaku tanaman kelapa sawit itu milik mereka, silakan ambil pohonya dan bawa pergi semuanya, tapi kalau tanah itu milik kami, tanah leluhur kami, sudah lama sekali kami sengsara dibuat mereka.” Sambung ibu lainya sambil menyusui anaknya. Sejak pukul 10.00 Wib, puluhan kaum ibu dan anak-anaknya ini berkumpul dipekarangan depan Mapolres Langkat.

 

Hingga menjelang sore mereka belum juga beranjak dari tempat itu. Ana (38) salah seorang warga yang menagku suaminya juga ditangkap Polisi mengaku mereka tidak akan pergi pulang sebelum mereka-mereka yang ditangkap tadi belum dilepaskan. “ Sampai kapanpun kami akan tetap bertahan disini, kalaupun kami pulang, kami sudah tidak punya rumah lagi, dimana kami mau tinggal, sementara suami ditangkap Polisi.

 

Dari mulai pagi sampai sore ini belum ada sebutir nasipun yang masuk kedalam perut kami, kami tidak punya uang mau beli beras, kalaupun dirumah mau masak apa, satu biji beraspun tidak ada, kenapa tidak ada orang yang kasihan sama kami-kami yang miskin ini, tapi coba kalau kami orang kaya pasti kami tidak diperlakukan seperti ini, bahkan keluarga kami yang diperiksa sama bapak polisi itu tidak ada yang diberikan makan, untung ada seorang anggota DPRD Langkat yang baik hati memberikan nasi tadi.” Tukas Ana berlinang air mata.

 

“ Kenapa tidak ada orang yang peduli dengan nasib kami ini, sudahlah ladang tempat kami mencari makan diambil, rumah kami dirusak dan ketika kami memberikan perlawanan kepada orang yang merampas hak kami, kok malah keluarga kami yang ditangkap seperti pencuri saja, bukanya mereka yang merampas milik kami yang ditangkap dan diadili, beginilah nasib menjadi orang miskin selalu salah dalam bertindak’ ketus Ana disambut haru teman-temanya.

 

Karena terlalu lapar tak makan seharian, salah seorang dari ibu-ibu ini coba meminta makan kepada warga yang melintas. “ tapi ulahnya langsung dicegah petugas, selang beberapa menit kemudian wanita bertubuh kurus kering inipun jatuh pingsan disambut tangisan teman-temanya yang lain. “ Ya tuhan, kenapa lah nasib kami jadi seperti ini, “ jerit seorang ibu tua sambil menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tanganya sambil bersandar kesebuah batang pohon.

 

Sementara Kapolres langkat AKBP Drs. H Dodi Marsidy ketika dikonfirmasi POSMETRO melalui Kabag Binamitra Kompol Edi Sudarsono perihal kasus ini membenarkan kalau pihaknya telah mengamankan 46 orang warga KTMIM terkait percobaan pengrusakan alat berat (jhonder) milik PT.Buana Estate yang hendak mengangkut buah sawit diareal perkebunan itu.

 

Menurut Kompol Edi Sudarsono, penangkapan terhadap warga tadi setelah pihaknya menerima laporan pengaduan dari perkebunan PT.Buana Estate.  Laporan itu masing-masing dituangkan dalam No.Pol: LP/343/VII/2008/ Lkt tanggal 23 Juli 2008. Laporan Polisi No.Pol : LP/03/I/2007/Lkt. Laporan Polisi No.Pol: LP/531/XII/2007/LKt. Dalam pengaduan PT. Buana Estate yang diterima Polres Langkat, telah terjadi pengrusakan dan rencana pengrusakan serta melarang memanen hasil produksi perkebunan berupa buah kelapa sawit milik PT. BE.

 

Atas kasus ini tidak tertutup kemungkinan dari ke 46 warga yang diperiksa sekaligus dimintai keteranganya bakal ditahan Polres Langkat. Sebab, disangkakan telah melangar Pasal 170 KUHPidana yo Pasal 47 UU No.18 tahun 2004 tentang perkebunan Subsider UU No.51 tahun 1960 dan UU darurat No.12 tahun 1951. “ ujar Kompol Edi Sudarsono yang juga perwira penghubung Polres Langkat ini.(darwis)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: