Derita Warga Kampung Kompak Banjaran

 

Derita Warga Kampung Kompak Banjaran :

29 Ditetapkan Jadi Tersangka, 4 Jadi Terdakwa Di PN Langkat

 

Darwis >> Langkat

 

Masa depan warga Kampung Kompak Banjaran, Kelurahan Hinai Kiri, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat sepertinya punah sudah. Setelah dua puluh sembilan orang warga Kelompok Tani Masyarakat Inggin Makmur (KTMIM) ditangkap oleh pihak Polres Langkat beberapa waktu lalu dan hingga kini masih mendekam dibalik sel Polres Langkat.

 

Kini penderitaan mereka semakin lengkap dengan didudukkannya 4 orang lagi warga disana dikursi pesakitan sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Langkat di Stabat.

 

Keempat orang warga yang menjadi terdakwa itu masing-masing Supono (44), Joko Sumpeno (45), Kardimo (70) dan Andi Wijaya (38). Mereka diadili oleh PN Langkat karena dilaporkan oleh pihak PT.Buana Estate atas kasus masuk kedalam lahan perkebunan tanpa ijin. Atas kasus itu merekapun dijerat dengan Pasal 47 UU No.18 tahun 2004 tentang perkebunan.

 

Meski tidak ditahan didalam sel seperti rekan dan saudaranya yang lain, namun kasus inipun telah digelar sebanyak dua puluh kali persidangan. Sidang yang diketuai majelis hakim Edi S Pelawi SH, Rendra SH dan Purwanta SH serta jaksa penuntut umum (KPU) Hendra Sarbaini SH tersebut, tentu saja sangat melelahkan warga yang harus pula mencari nafkah untuk menghidupi keluarga.

 

Dan Senin (28/7) sidang terdahap keempat warga Kampung Banjaran ini kembali dibuka. Kali ini materi sidang mendengarkan tuntutan jaksa. Pada sidang sebelumnya dihadirkan saksi ahli dari BPN yang diwakili oleh O Pasaribu serta saksi ahli dari USU P. Tarigan. Sedangkan keempat warga inipun didampingi dua orang penasehat hukum G. Maruhum dan Dedi Sahyadi Ginting.

 

Sebelum dimulainya sidang keempat warga inipun sempat berkeluh kesah kepada POSMETRO MEDAN. Kata mereka, apa yang dituduhkan oleh pihak PT.Buana Estate terhadap mereka sebenarnya tidak rasional, sebab mereka dituduh masuk kelahan perkebunan tanpa ijin, padahal selama ini warga merasa kebun atau tanah merekalah yang dirampas oleh perkebunan. Tapi sayang, teriakan warga tidak pernah didengar apalagi ditangapi oleh para pihak-pihak yang berkompoten.

 

“ Jeritan kami diangap seperti anjing menggongong, tapi kafilah tetap berlalu, “ cetus Supono seraya menambahkan sudah terlalu letih menghadapi persoalan ini namun tidak pernah ada penyelesaianya, malah pihak merekalah yang diangap perusuh.  Supono juga mengatakan kalau penangkapan yang dilakukan oleh pihak Polisi Jum’at (25/7) lalu sepertinya salah kaprah. Pasalnya, banyak warga yang tidak tau menahu tentang masalah itu tapi malah diangkut.

Seperti warto (36) misalnya. Ketika itu Wartao berhenti dipingir jalan setelah melihat ada ramai-ramai ditempat itu. Dari atas sepeda motornya, pria ini melihat kerumunan warga yang sedang berkumpul. Tanpa tau asal usul masalah, tiba-tiba seorang petugas langsung menangkap Warto dan menaikkanya kedalam truck Polisi. Tak ketingalan sepeda motor warga Kecamatan Secanggang ini juga diangkut ke polres Langkat saat itu.

 

Yang lebih parahnya lagi ada beberapa orang warga yang ketika itu hendak pergi keladang juga diangkut dan hingga saat ini masih “ terbenam”  di Polres Langkat sebagai tersangka. “ Banyak warga yang tidak tau apa-apa kini ditahan di Polres Langkat, artinya ketika kejadian mereka (warga) ada yang melintas hendak pergi keladang, memang secara kebetulan membawa senjata tajam seperti parang, ya namanya jua orang mau pergi keladang kan pasti bawa senjata seperti parang.” Ujar Surianto (37) yang ditangkap Polres sewaktu hendak mencari kangkung.

 

Menurut Surianto, sebenarnya yang pertama kali membuat masalah ketika itu adalah pihak PT. Buana Estate. Saya tau persis kalau yang pertama kali memancing emosi warga sampai membalikan jhonder adalah karyawan karena waktu itu saya sedang duduk diatas kereta “ katanya.  Ketika itu supir jhonder yang hendak mengangkat buah kelapa sawet hendak menabrak anak-anak.

 

Warga yang melihat sikap arogan sisupir jhonder tersebut berupaya menghalangi jalan, tapi sekali lagi supir ini menabrakan besi berjalan itu kepada Ponise (45) akibat ditabrak jhonder tersebut Ponise mengalami luka pada bagian tulang dada retak dan kaki luka-luka . Melihat hal inilah emosi warga langsung naik, karena kesal warga lantas menahan jhonder dan mendorongnya masuk kedalam paret.

 

Yang menjadi tanda tanya warga saat itu pihak Karyawan perkebunan semuanya mengunakan tanda merah dilengan bajunya sepertinya semua kejadian ini telah diatur kian hinga ahirnya Polisi bergerak menangkapi warga dengan alasan melakukan pengrusakan dan sebagainya.” Tukas Surianto kesal seraya menambahkan diduga telah terjadi konspirasi diantara PT.Buana Estate dengan Polres Langkat.

 

Sementara ditempat terpisah, puluhan warga lainya masih terus bertahan di depan Polres Langkat. Kalau sebelumnya para wanita dan anak-anak ini mendirikan tenda biru persis didepan pintu masuk ke Polres Langkat, tapi kini mereka bergeser beberapa puluh meter dari gerbang Mapolres. Saat ini warga mendirikan tenda tak jauh dari kantor Kejaksaan Negeri Langkat di Stabat.

 

Salah seorang ibu yang ditemui POSMETRO mengaku akan tetap bertahan menungu saudara mereka yang masih ditahan Polisi. “ Kami semua akan terus bertahan disini sampai saudara dan suami kami dibebaskan, kami sudah tidak punya tempat tinggal lagi, kalaupun kami pulang ke Kampung tanah kami sudah tidak ada lagi, begitu juga dengan suami kami, mereka ditahan disini, jadi apa lagi yang kami harapkan disana. “ imbuhnya.(darwis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: