Keributan Di PT. Buana Estate :

Terkait Keributan Di PT. Buana Estate :
Polres Langkat Lepas 18 warga 29 Ditahan
 
Darwis >> LangkatPenderitaan warga Kampung Kompak Banjaran, Kelurahan Hinai Kiri, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, sepertinya tidak ada habis-habisnya. Sejak tanah moyang mereka diambil secara paksa oleh perkebunan disana, seratusan kepala keluarga (KK) yang selama ini mengantungkan nasibnya diareal lahan tersebut jadi terlunta-lunta. Lahan pertanian yang dijadikan tempat menafkahi keluarga kini sudah tidak ada lagi. Rumah yang sebelumnya dijadikan tempat berkumpul bersama keluarga juga telah diratakan oleh mesin-mesin buldozer perkebunan.

Sejak saat itu warga kampung Banjaran harus meningalkan lahan tersebut. Ada yang memilih pergi kedaerah lain mencari kerja ada juga yang tetap bertahan dengan menumpang tinggal dirumah-rumah warga dan keluarga yang prihatin. Kondisi yang serba sulit itulah membuat puluhan anak-anak disana tidak dapat mengecap pendidikan di bangku sekolah. Kenyataan ini harus mereka terima karena kedua orang tuanya tidak mampu menyekolahkan mereka. ” jangankan untuk biaya sekolah, untuk makan sehari hari saja kami kesulitan, kadang dapat uangnya cuma lima belas ribu rupiah, dengan kebutuhan sembako yang serba mahal sekarang ini, tentu saja uang sebesar itu tidak ada artinya.

” Tapi kalau saja tanah dan ladang kami tidak dirampas oleh perkebunan, mungkin anak-anak kami tidak ada yang meningalkan bangku kelas alias putus sekolah, karena kami bisa bercocok tanam dan menjual hasilnya buat biaya kebutuhan sekolah maupun sehari-hari,” ujar Ana (36). Kondisi kami sekarang ini ibarat orang yang sedang sekarat, semua pejabat atau orang-orang kaya tak ada satupun yang mau memperdulikan kemiskinan kami, malah mereka mentertawakan seperti menghina kondisi kami yang kelaparn disini.” Untuk membesarkan anak-anak, saya harus membantu suami bekerja mencari upahan diladang-ladang warga, dan kalaupun malam hari saya pergi mencari kodok (katak) untuk dijual.

” Kalau musim hujan tangkapan kodok tadi bisa menghasilkan uang Rp.15 ribu, tapi kalau musim panas tak satu ekorpun kodok yang dapat ditangkap, karena itulah saya harus memberhentikan anak yang masih sekolah karena tidak punya uang lagi. Seandainya tanah kami itu tidak diambil oleh pihak perkebunan tentu keadaan kami tidak terlunta-lunta seperti ini, ” tukas wanita tiga orang anak ini diantara puluhan wanita lainya ketika mendatangi Polres Langkat Sabtu (26/7) untuk kedua kalinya.               

 
Sebelumnya sebanyak 47 orang warga  Kelompok Tani Masyarakat Ingin Makmur (KTMIM) Kampung Kompak Banjaran diamankan Polres Langkat, Jum’at (25/7). Penangkapan yang dilakukan  petugas kepolisian ini terkait keributan yang terjadi diareal lahan yang diklaim warga dan PT.Buana Estate adalah milik mereka. Saat itu beberapa orang pekerja mengangkut buah sawit dengan mengunakan Jhonder. Namun, ratusan warga langsung menghadang para pekerja perkebunan tadi. Aksi warga KTMIM tidak  juga merusak jalan yang akan dilalui Jhonder tersebut.

Bahkan puncak aksinya, warga mendorong Jhonder tersebut kedalam parit hingga terbalik sambil menyirami alat berat itu dengan minyak Bensin. Puluhan anggota Dalmas Samapta Polres Langkat yang diturunkan kelokasi langsung melakukan tindakan dengan mengamankan warga yang kian brutal. Selain mengamankan puluhan warga tadi, petugas juga menyita dua buah jerigen bekas minyak tanah, 19 senjata tajam satu diantaranya samurai. 14 unit sepeda motor, 10 unit sepeda dayung, 2 buah ban bekas sepeda motor dan 8 buah ban sepeda dayung turut diamankan ke Polres langkat sebagai barang bukti ketika itu.

Sementara Kapolres langkat AKBP Drs. H Dodi Marsidy ketika dikonfirmasi POSMETRO melalui Kabag Binamitra Kompol Edi Sudarsono perihal perkembangan kasus ini mengatakan, setelah pihaknya melakukan pemeriksaan secara marathon terhadap ke 47 warga masyarakat yang diamankan kemarin (Jum’at  25/7), 29 diantaranya dinyatakan ditahan seorang wanita karena terbukti melakukan kesalahan yang melangar Undang-Undang perkebunan. Sedangkan 18 orang lagi dikembalikan atau dibebaskan karena belum cukup unsur guna dilakukan penahanan. ” tegas Edi Sudarsono.

Sebelum diijinkan pulang, para warga yang dibebaskan ini terlebih dulu diberi pembinaan oleh Kompol Edi Sudarsono. Dalam arahanya Kabag Binamitra inipun meminta warga untuk menahan diri artinya tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan diri sendiri, kalaupun warga merasa memiliki bukti-bukti atas tanah tersebut, ada baiknya mereka menempuh jalur hukum, apalagi saat ini kasus sengketa lahan diantara warga dan PT.Buana Estate sedang dalam proses hukum, diharapkan warga lebih bersabar sedikit menungu keputusan hukum tadi. ” pinta Kompol Edi Sudarsono yang juga perwira penghubung ini.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: