Sengketa Lahan

Sengketa Lahan :

Kelompok Tani Banjaran Nyaris Baku Hantam Dengan PT. Buana Estate

 

Darwis >>

 

Perseteruan antara warga yang tergabung didalam Kelompok Tani Masyarakat Ingin Makmur (KTMIM) Kampung Kompak Banjaran, Kelurahan Hinai Kiri Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, dengan pihak perkebunan PT. Buana Estate tampaknya terus meruncing.

 

Kalau sebelumnya masyarakat disana (KTMIM) meminta kepada pihak PT. Buana Estate agar segera mengembalikan lahan mereka seluas 70,3 ha yang telah dirampas oleh Perkebunan yang terletak di Desa Cinta Raja, Kecamatan Secanggang tersebut, kini warga menahan pihak perkebunan untuk mengambil hasil dari lahan tersebut yang diatasnya tumbuh tanaman kelapa sawit.

 

Aksi perlawanan yang dilakukan warga tadi berawal ketika para karyawan (pekerja) perkebunan PT.Buana Estate, Kamis (24/7) hendak memanen buah kelapa sawit diareal ini. Ketika beberapa orang pekerja sedang mendodos dan mengait buah sawit, tiba-tiba dihalau oleh puluhan masa dari KTMIM.

 

Massa yang terdiri dari kaum ibu-ibu  dan bapak ini meminta kepada pekerja untuk segera menghentikan kegiatanya serta tidak membawa keluar buah sawit yang telah mereka panen itu dari areal. Permintaan warga sempat mendapat perlawanan dari pihak perkebunan. Tak  cuma itu warga juga menahan Jhonder yang hendak mengangkut buah kelapa sawit tadi.

 

Akibatnya situasi dibawah pohon sawit inipun seketika menjadi “ memanas” puluhan petugas Pam swakarsa perkebunan langsung terlihat berkumpul dilokasi itu sambil menenteng berbagai jenis senjata mulai dari yang tumpul hingga yang tajam. Melihat hal ini warga KTMIM semakin berang.

 

Dua orang petugas Brimob-Binjai yang di BKO kan ditempat ini juga tak dapat berbuat banyak, mereka hanya bisa mengamati gerak-gerik warga. Adu fisik diantara pihak PT.BE dan warga  nyaris saja terjadi jika sepasukan petugas dari Polsek Secangang dan Polres Langkat tidak segera tiba dilokasi.

 

Oleh petugas kedua kubu langsung ditenangkan. Kapolsek Secanggang AKP Binsar Siahaan yang turun kelokasi meminta kepada kedua belah pihak agar menahan diri dan tidak melakukan tindakan anarkis. “ Kalau kalian berani membawa satu janjang saja sawit ini keluar, kami siap mandi darah disini.

 

“ Sudah cukup lama kalian mencuri hak kami, padahal beberapa waktu lalu PT. BE telah berjanji tidak akan melakukan kegiatan diareal ini selagi sengketa belum selesai, tapi kenapa memanem buah sawit diareal yang masih bermasalah ini, kepada bapak Polisi seharusnya kalian berdiri ditengah membela rakyat, “ teriak salah seorang warga dengan nada emosi.   

 

Warga mengklaim berdasarkan SK Mendagri No 9/HGU/82/tanggal 25 Juni 1982 dan SK Gubsu No 2324/27-12/1982 tentang lahan warga yang masuk ke HGU PT Buana Estate adalah legal dan harus dikembalikan ke masyarakat penggarap “ Kami meminta kepada PT Buana Estate, agar segera mengembalikan lahan seluas 70,3 hektar kepada masyarakat kelompok tani, karena berdasarkan dua SK yang kami miliki masih belum direvisi dan dianggap sah oleh pihak BPN Sumut ,” ujar warga.

 

Sementara Supono salah seorang pengurus KTMIM saat ditemui disela-sela aksi warga tadi mengatakan, warga meminta kepada PT.BE untuk segera angkat kaki dari lahan seluas 70,3 Ha yang merupakan milik masyarakat KTMIM. Selain itu, PT.BE juga harus mengangkat asetnya dari areal tersebut. “ Kita meminta kepada PT.BE segera mengosongkan areal ini dan mengangkat asetnya, karena sampai kapanpun kita akan tetap bertahan disni karena tanah ini adalah peningalan leluhur kami.” Tukas Supono.

 

Amatan wartawan Koran ini, dilokasi areal 70,3 hektar, telah banyak berdiri gubuk-gubuk milik warga dan beberapa jenis tanaman palawija yang mengelilingi rimbunnya pepohonan kelapa sawit. Ditempat terpisah Bambang Hermawan Pejabat Pengurus Kebun PT.Buana Estate yang dikonfirmasi POSMETRO diruangan kerjanya menyikapi tuntutan warga kampung Kompak Banjaran tadi mengatakan, apa yang dilakukan oleh warga dengan melakukan pemboikotan terhadap aktivitas karyawan untuk memanen sawit diareal tersebut amatlah disayangkan.

 

Sebab, karyawan melakukan kerjanya dilahan perkebunan yang masih memiliki HGU yang syah artinya dimana HGU perkebunan masih berlaku dan berahir pada tahun 2032 mendatang. Alas hak yang dimiliki oleh PT.Buana Estate sesuai dengan Akte Notaris No.132 yang dikeluarkan Notaris Kusmulyanto Ongko tanggal 3 Oktober 1972. Surat Direktorat agraria Propinsi Sumatera Utara No.DA.III/3405.1383/81 tanggal 22 April tahun 1981.

 

SK Mendagri Cq Dirjen Agraria No.9/HGU/DA/82 tanggal 25 Juni 1982. Surat Gubernur Sumatera Utara Cq Direktorat Agraria Sumut No.593.7596/10/83 taggal 27 Oktober 1983. SK Mendagri Cq Dirjen Agraria No.SK.9/HGU/DA/82/A/33 tanggal 28 Juni 1984. Surat Mendagri Cq Dirjen Agraria No.593.41/4300/AGR tanggal 29 Juni 1984.   SK.HGU.No 80/HGUBPN/2004 tanggal 13 Oktober 2004 dan Sertifikat HGU No.1 tangal 23 Juni 2003 sebelum ahirnya HGU diperpanjang dan berahir pada tanggal 31 Desember 2032 mendatang.” Terang Bambang sambil memperlihatkan surat keterangan perpanjangan HGU dimaksud.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: