Sengketa Tanah Di Secanggang

Seputar Sengketa Tanah Di Secanggang :

Karyawan PT.Buana Estate Gelar Unjuk Rasa Tandingan Ke Polres Langkat

 

Darwis >> Stabat

 

Polres Langkat sejak beberapa hari ini terlihat sibuk dari biasanya. Apalagi sejak ditangkapinya puluhan warga Kampung Kompak Banjaran, Kelurahan Hinai, Kecamatan Secanggang yang tergabung dalam kelompok tani masyarakat inggin mandiri (KTMIM). Dan sejak 29 orang warga Kampung Kompak Banjaran resmi ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan oleh Polres Langkat, puluhan sanak keluarga mereka setiap harinya mendatangi Polres Langkat.

 

Meskipun tidak diijinkan masuk kedalam, namun dengan sabar puluhan kaum ibu dan anak-anak yang suami dan ayahnya ditahan ini menungu diluar pagar Polres Langkat. Untuk berlindung dari teriknya matahari, kaum tertindas inipun mendirikan tenda biru seadanya. Dibawah tenda plasti inilah mereka berkumpul tanpa kepastian sampai kapan berada ditempat itu.

 

Tak ada senyum,tak ada tawa dibawah tenda ini. Yang terlihat hanya wajah-wajah murung kaum termarginalkan itu. Mereka hanya bisa saling pandang dan berbagi sedikit senyum kepada yang lainya. Kalau diamat-amati senyum itupun sudah tak semanis dulu lagi. Penyebabnya, karena senyum dan tawa itu telah dirampas bersama 70,3 Ha tanah mereka oleh pihak Perkebunan. Beberapa anak kecil yang seharusnya duduk dibangku belajar terlihat duduk terselit diantara orang tuanya.

 

Sejak orang tuanya ditahan Polisi, anak-anak inipun seperti ayam kehilangan induk.” Adek ngak sekolah karena ngak ada uang jajan, ade juga rindu sama ayah, “ cetus Mila pelajar kelas V SD saat ditanya mengapa berada ditempat itu. Kerinduan Mila tak jauh beda dengan anak-anak lainya yang harus berhenti sekolah sejak orang tua mereka ditahan..” Macamana kami mau sekolahkan anak, sementara bapaknya masih dipenjara,” ujar Sutarmi (43) sambil menyeka air mata.

 

Suratmi juga mengatakan sudah tidak tau lagi harus berbuat apa semenjak sang suami ditahan. Ibu lima orang anak inipun menambahkan kalau empat anaknya yang masih bersekolah harus diberhentikan dengan berat hati karena tidak punya biaya. “ Anak saya lima orang, tapi yang sekolah 4 orang, kini semuanya harus diberhentikan sekolah karena tidak ada biaya, bagaimana kami bias hiduf sementara kepala keluarganya didalam penjara.

 

Untuk itulah Suratmi dan warga lainya akan tetap bertahan didepan Mako Polres Langkat menungu mereka yang ditahan dibebaskan.” Kalau ditanya sampai kapan kami disini, kami tidak tau, yang pasti sebelum suami dan saudara kami dibebaskan, kami akan tetap bertahan, kalau sore hari kami pulang kekampung menumpang tidur dan memasak dengan keluarga dan paginya kami akan kembali kemari (Polres Langkat).

 

Kalau masalah makan, tidak ada masalah sama kami apa yang ada itu yang kami makan karena kami sudah terbiasa hiduf susah, boleh dibilang kami sudah biasa makan nasi berkuah air mata,” pak imbuh wanita lainya nyeletuk. Ketika puluhan warga Kampung Kompak Banjaran tadi meratapi nasibnya yang malang , seratusan warga mengatasnamakan Karyawan PT.Buana Estate Selasa (29/7) mendatangi Polres Langkat.

 

Masa yang datang dengan berjalan kaki dari depan kantor DPRD Langkat ini membawa sejumlah spanduk dan poster yang dibentangkan. Kedatangan karyawan tersebut sepertinya sengaja diarahkan oleh pihak Perkebunan. Pasalnya, iring-iringan massa tadi juga diikuti sebuah Ambulance. Tidak seperti aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh warga KTMIM yang mendapat penjagaan extra ketat dan kurang mendapat perhatian oleh Polres Langkat.

 

Kedatangan karyawan perkebunan yang mengatasnamakan diri pekerja-pekerja anggota SPSI Perkebunan inipun disambut hanggat oleh pihak Polres Langkat tanpa harus berteriak dan berjemur lama-lama didepan gerbang. Bahkan pintu gerbang Polres Langkat dibuka lebar-lebar untuk masa pro Perkebunan ini tidak seperti warga KTMIM yang dijaga ketat sepasukan petugas Dalmas Satmapta. Demo yang dilakukan oleh pekerja-pekerja perkebunan PT.Buana Estate tersebut tak ubahnya seperti unjukrasa tandingan saja.

 

Warga KTMIM yang berada tak jauh dari masa yang berorasi tadi hanya menatap hampa kepada orang-orang ini. Selain melakukan demo layaknya angar kekuatan tersebut, mereka juga menyatakan sikap dan dukungan terhadap Polres Langkat. Namun demo ini juga disusupi pihak-pihak luar alias tidak murni mereka yang berunjuk rasa tadi adalah karyawan perkebunan. Hal ini diketahui POSMETRO ketika beberapa orang warga yang kebetulan melihat demo tersebut mengaku kalau diantara orang ini bukan karyawan semua.” itu bukan karyawan kok ikut unjuk rasa ya,” bilang seorang warga.

 

Dugaan pihak Perkebunan sengaja membayar orang-orang luar melakukan unjuk rasa tandingan tadi dikuatkan dengan banyaknya anak-anak yang diikut sertakan. Seperti Putri (11) pelajar Kelas V SD Hinai Kiri ini misalnya. Ia ikut berorasi setalah ayahnya Poniman yang karyawan kebun diperintahkan mandor untuk unjukrasa.” Kami ngak tau apa-apa, disuruh pergi ke Stabat ya kami pergi aja, kalau masalah ini itunya tanyakan saja sama kordinatornya, karena kami ngak tau apa-apa.” Tukas seorang pendemo kepada POSMETRO sambil beranjak pergi.

 

Kapolres langkat AKBP Drs.H Dodi Marsidi diwakili Kabag Binamitra Kompol Edi Sudarsono yang menerima perwakilan masa keryawan ini mengatakan akan menyampaikan segala aspirasi masa kepimpinan.” Saya akan sampaikan keinginan bapak-bapak ke bapak Kapolres.” tukas Edi Sudarsono sedikit kalem.(*) 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: